Jumat, 27 Juli 2012

RESPON PETANI TERHADAP TEKNOLOGI TRICHOKOMPOS BERBAHAN DASAR JERAMI PADI DI PROVINSI JAMBI


ABSTRAK
Pemanfaatan jerami padi sebagai pupuk organik dengan menggunakan bioaktivator Trichoderma sp, yang dikenal dengan Trichokompos, telah diintroduksi kepada petani di Provinsi Jambi sejak tahun 2004. Namun, sampai dengan akhir tahun 2009 baru 3% petani padi yang menerapkan teknologi ini. Untuk itu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi petani dalam penerapannya. Pengumpulan data dilakukan melalui survei pada bulan Juni 2010 di lima kabupaten yang telah diintroduksi teknologi Trichokompos di Provinsi Jambi, yaitu Kabupaten Kerinci, Bungo, Sarolangun, Merangin dan Tanjung Jabung Barat.   Responden penelitian ini terdiri dari 75 orang petani yang menerapkan dan 61 petani yang belum atau tidak lagi menerapkan teknologi Trichokompos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen teknologi yang paling sulit diterapkan petani adalah “mencacah jerami”.  Kendala utama yang dihadapi sehingga petani tidak menerapkan teknologi Trichokompos adalah “tidak memiliki cukup waktu dan tenaga kerja” serta “kurangnya sosialisasi penerapan teknologi Trichokompos”.  Guna penyebarluasan teknologi Trichokompos selanjutnya maka perlu diintroduksi metode pembuatan yang lebih sederhana yaitu tanpa pencacahan disertai pelaksanaan sosialisasi yang lebih terarah dan terintegrasi.

Kata kunci:    respon petani, Trichokompos, jerami padi

PENDAHULUAN
Pemerintah Provinsi Jambi telah membuat kebijakan untuk mendorong  pemanfaatan pupuk organik sebagai salah satu alternatif pengurangan kebergantungan petani terhadap pupuk kimia.  Hal ini dipertegas dengan arahan Gubernur Jambi bahwa pada tahun 2010 seluruh petani di Provinsi Jambi diharapkan sudah menggunakan pupuk organik.  Salah satu jenis pupuk organik yang telah disosialisasikan adalah Trichokompos, yang dibuat dari bahan dasar jerami dengan menggunakan bioaktivator jamur Trichoderma sp (Jambi Star, 2009). Penggunaan bahan dasar jerami sebagai pupuk organik memiliki manfaat ganda.  Selain sebagai sumber pupuk guna mensubstitusi pupuk kimia, juga dapat mengurangi pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh pembakaran jerami, yang umumnya dilakukan oleh petani untuk menyingkirkan jerami padi dari areal pertanaman.       
Penyebaran teknologi Trichokompos berbahan dasar jerami telah dilakukan sejak tahun 2004 melalui berbagai kegiatan ke seluruh kabupaten/kota di Provinsi Jambi, baik oleh instansi teknis tingkat kabupaten/kota maupun tingkat provinsi.  Pada tingkat provinsi, penyebaran teknologi dilaksanakan oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jambi, yang operasionalnya dilakukan oleh BPTPH (Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura).  Pada tahun 2009, teknologi ini telah diterapkan pada areal pertanaman padi seluas 4.781 hektar (BPTPH Jambi, 2010).  Angka ini tentunya masih relatif kecil, sekitar 3% dari luas areal sawah yang ada di Provinsi Jambi.  Oleh karena itu perlu upaya percepatan penyebaran teknologi ini agar petani dapat memperoleh manfaat optimal dari usahatani mereka melalui penerapan teknologi Trichokompos. Sebagai bahan pertimbangan dalam upaya percepatan penyebaran teknologi ini, dilakukan kajian mengenai respon petani terhadap penerapan teknologi Trichokompos yang telah disebarluaskan selama ini.
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui permasalahan yang ada di lapangan dalam penerapan teknologi pupuk organik berbahan dasar jerami padi dengan menggunakan bioaktivator Trichoderma sp. Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi:
a.       Komponen teknologi yang dirasakan sulit dilakukan oleh petani dalam penerapan teknologi Trichokompos.
b.      Persepsi petani padi tentang teknologi Trichokompos berbahan dasar jerami.
c.       Permasalahan dan kendala yang dihadapi petani dalam menerapkan teknologi Trichokompos.

METODOLOGI

Kerangka Pikir

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif untuk mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi petani dalam menerapkan teknologi pupuk organik Trichokompos.  Oleh karena itu  objek utama penelitian ini adalah petani yang sudah mengetahui teknologi Trichokompos, baik yang telah menerapkan maupun yang belum dan tidak lagi menerapkan teknologi  ini.  Untuk itu maka penelitian akan difokuskan pada wilayah yang sudah dilaksanakan pemasyarakatan teknologi Trichokompos.  Karena cakupan wilayah penelitian ini cukup luas maka pengumpulan data dilakukan melalui survei terhadap petani di sejumlah wilayah yang telah diintroduksikan teknologi Trichokompos.
Dalam upaya penyebarluasan suatu teknologi perlu diketahui tentang alasan petani yang belum atau tidak lagi menerapkan teknologi ini.  Alasan petani tidak menerapkan teknologi disebabkan antara lain oleh persepsi petani yang kurang baik tentang teknologi tersebut atau mereka mempunyai kendala tertentu dalam penerapannya. Untuk itu perlu dikumpulkan informasi dari petani yang telah mengetahui teknologi Trichokompos mengenai persepsi mereka tentang teknologi tersebut serta kendala yang mereka hadapi untuk menerapkan teknologi ini.  Dengan membandingkan tingkat persepsi antara petani yang telah menerapkan teknologi Trichokompos dengan petani yang tidak menerapkan maka dapat dirumuskan metode sosialisasi yang lebih tepat guna meluruskan persepsi petani dalam menerapkan teknologi ini selanjutnya.

Teknik Pengumpulan Data

Data penelitian ini dikumpulkan di lima wilayah yaitu Kabupaten Kerinci, Kabupaten Merangin, Kabupaten Sarolangun, Kabupaten Bungo dan Kabupaten Tanjung Jabung Barat.  Responden penelitian adalah petani padi yang berada pada lokasi binaan BPTPH Provinsi Jambi dalam penyebarluasan teknologi Trichokompos.  Responden dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu:
(1)   Petani yang menerapkan teknologi Trichokompos yaitu petani yang pada saat penelitian menerapkan teknologi Trichokompos dengan bahan dasar jerami untuk dimanfaatkan sebagai pupuk organik pada areal pertanaman padi mereka.
(2)   Petani yang tidak menerapkan teknologi Trichokompos yaitu petani yang sudah mengetahui tentang teknologi Trichokompos tetapi belum menerapkan teknologi ini atau pernah penerapkannya tetapi pada saat penelitian tidak lagi menerapkannya.
Pengumpulan data dilakukan pada bulan Juni 2010 melalui wawancara dengan responden di kediaman atau lahan usaha petani.  Responden ditentukan dengan menggunakan teknik Aksidental (Faisal, 2003).  Petugas pengumpul data mendatangi lokasi penelitian dan menetapkan petani yang memenuhi persyaratan yang bertepatan ditemui saat pengumpulan data untuk dijadikan responden.  Di setiap lokasi penelitian dikumpulkan data responden untuk petani yang menerapkan dan tidak menerapkan teknologi Trichokompos masing-masing sebanyak 15 petani.  Teknik ini digunakan mengingat kerangka sampel penelitian tidak diketahui secara jelas serta untuk mengatasi kesulitan dalam menemui petani. 
Pengumpulan data tentang komponen teknologi yang dirasakan sulit oleh petani dilakukan dengan mengajukan pertanyaan hanya kepada responden yang menerapkan teknologi Trichokompos.  Pertanyaan yang diajukan mencakup sembilan komponen teknologi pembuatan Trichokompos yaitu: (1) mendapatkan agen hayati; (2) mendapatkan kotoran ternak; (3) mendapatkan plastik penutup; (4) mengumpulkan jerami; (5) mencacah jerami; (6) menumpuk bahan kompos; (7) membalik kompos; (8) membongkar kompos; dan (9) menebar kompos. Responden memberikan jawaban dalam model skala Likers dengan nilai antara 1 sampai dengan 5.  Nilai 1 menunjukkan komponen teknologi tersebut “sangat kurang sulit, sedangkan nilai 5 menunjukkan bahwa komponen teknologi tersebut “sangat sulit dilakukan oleh responden.
            Untuk mengetahui persepsi petani tentang penerapan teknologi Trichokompos dilakukan dengan mengajukan delapan pernyataan kepada responden.  Jawaban responden terhadap pernyataan dibuat dalam bentuk skala Likert dengan lima pilihan yaitu: tidak setuju, kurang setuju, tidak tahu atau ragu-ragu, setuju dan sangat setuju.  Pernyataan yang diajukan kepada responden mencakup dimensi mendukung (favourable) dan tidak mendukung (unfavourable)  terhadap penerapan teknologi Trichokompos secara seimbang (Suryabrata, 1998).  Untuk pernyataan yang memiliki dimensi mendukung maka jawaban “tidak setuju diberi nilai 1 sedangkan jawaban “sangat setuju diberi nilai 5, sedangkan untuk pernyataan yang memiliki dimensi tidak mendukung  diberi nilai sebaliknya.    
  
Analisis Data

Untuk mengetahui komponen teknologi yang sulit diterapkan oleh  petani dalam penerapan teknologi Trichokompos, dilakukan pembandingan nilai rataan tingkat kesulitan.  Nilai rataan tingkat kesulitan yang lebih tinggi menunjukkan bahwa komponen teknologi yang dimaksud dirasakan lebih sulit untuk diterapkan oleh responden.  Guna mengetahui adanya perbedaan tingkat kesulitan dari masing-masing komponen teknologi, dilakukan analisis data dengan menggunakan metode Anova satu arah.  Jika ditemui keberartian yang nyata dari uji ini, maka dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan guna mengetahui perbedaan rataan tingkat kesulitan masing-masing komponen teknologi.
Data mengenai persepsi petani tentang teknologi Trichokompos dianalisis dengan menggunakan pendekatan pengukuran sikap sebagaimana yang dijelaskan oleh Azwar (1995).   Hasil dari analisis ini digunakan untuk membandingkan persepsi antara responden yang menerapkan dengan responden yang tidak menerapkan teknologi Trichokompos. Hasil uji beda nyata antara butir persepsi kedua kelompok responden akan digunakan untuk mengetahui komponen penerapan teknologi Trichokompos yang perlu mendapatkan perhatian dalam penyebarluasan teknologi Trichokompos selanjutnya.
Data mengenai tingkat kesulitan dan persepsi, yang diperoleh dengan menggunakan model skala Likert, termasuk ke dalam pengukuran dengan skala ordinal sehingga hanya dapat diolah dengan menggunakan statistika non parametrik.  Agar data yang diperoleh dapat dianalisis dengan menggunakan statistika parametrik maka dilakukan standarisasi data dengan menggunakan Methods of Successive Interval (Waryanto dan Millafati, 2006).
            Pengujian validitas dan realibilitas instrumen pengukuran persepsi dilakukan dengan mengacu pada Ancok (1997).  Validitas instrumen diukur dengan menggunakan model korelasi antara skor dan skor total (item-total correlation).  Butir pernyataan dianggap valid apabila memiliki korelasi dengan keberartian nyata pada a=0,05.  Sedangkan realibilitas instrumen diukur dengan menggunakan model Alpha Cronbach. Analisis data penelitian ini dilakukan dengan menggunakan program SPSS versi 16.  Kesimpulan atas hasil analisis data dibuat dengan mengacu pada Triola (1998).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Keadaan Umum

Setelah dilakukan sortasi terhadap data yang dikumpulkan maka didapat 136 respoden yang datanya memenuhi persyaratan untuk dianalisis lebih lanjut.  Jumlah responden untuk masing-masing kategori dan wilayah penelitian disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1.  Sebaran Responden Penelitian

Wilayah
Jumlah Responden
Menerapkan
Tidak Menerapkan
a.       Kab. Kerinci
(Kec. Siulak)
b.      Kab. Merangin
(Kec. Tabir)
c.       Kab. Sarolangun
(Kec. Sarolangun)
d.      Kab. Bungo
(Kec. Bathin III)
e.       Kab. Tanjab Barat
(Kec. Bt. Asam)
16

18

12

15

14
10

8

15

14

14
Jumlah
75
61

Seluruh responden penelitian ini adalah petani padi sawah.  Luas areal pertanaman padi responden berkisar antara 0,02 ha sampai dengan 3,75 ha dengan rataan 0,63 haSebagian besar (61%) pemilikan lahan responden adalah milik pribadi; 24% adalah lahan sewa atau sebagai penggarap; dan 15% adalah lahan ganti gilir.  Sistem ganti gilir ditemui di Kabupaten Kerinci, dimana beberapa ahli waris suatu keluarga menggunakan lahan warisannya secara bergilir setiap musim tanam.  Sebagian besar (54%) areal pertanaman padi responden memperoleh pengairan irigasi, sedangkan sisanya merupakan areal persawahan tadah hujan. Mayoritas responden (93%) yang menerapkan teknologi Trichokompos melakukan usahatani padi sawah dengan IP (indeks pertanaman) 200 dan sisanya (7%) menerapkan IP 300.  Sementara itu, responden yang tidak menerapkan teknologi Trichokompos, yang melakukan usahatani padi dengan IP  100 sebanyak 27,5% dan sisanya melakukannya dengan IP 200.  Indeks Pertanaman ini penting artinya dalam kaitannya dengan penerapan teknologi Trichokompos.  Petani yang melakukan usahatani padi dengan IP 100, yaitu menanam padi setahun sekali, umumnya enggan menerapkan teknologi Trcihokompos karena jerami padi yang disebarkan di areal persawahan dapat lapuk dengan sendirinya tanpa melalui pembuatan Trichokompos.
Mayoritas (55%) responden telah menerapkan teknologi Trichokompos selama satu sampai dengan tiga tahun,  sisanya telah menerapkan lebih dari empat tahun.  Penyebaran teknologi ini di wilayah penelitian tidak saja dilakukan oleh BPTPH Provinsi Jambi tetapi juga oleh instansi teknis kabupaten setempat.  Kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi teknis kabupaten ini ada juga yang diikuti dengan pemberian bantuan peralatan seperti mesin pencacah jerami dan plastik penutup.  Pada penelitian ini sebagian petani mengaku masih menggunakan plastik penutup bantuan pemerintah sehingga mereka tidak merasakan kesulitan dalam penyediaan peralatan ini. Sedangkan BPTPH melakukan penyebarluasan teknologi Trichokompos melalui Pos IPAH (Informasi dan Pelayanan Agen Hayati) yang telah dibangun di sejumlah lokasi.  Pos IPAH ini selain berfungsi sebagai pusat kegiatan informasi teknologi Trichokompos juga dilengkapi dengan sarana untuk melakukan perbanyakan Trichoderma sp untuk kebutuhan petani di sekitarnya.   

Tingkat Kesulitan 

Hasil analisis data yang diperoleh dari responden yang menerapkan teknologi Trichokompos tentang tingkat kesulitan masing-masing komponen teknologi ini disajikan dalam Tabel 2 dan 3.  Dari hasil uji ANOVA yang dilakukan, didapat adanya salah satu komponen teknologi yang memiliki rataan tingkat kesulitan sangat nyata berbeda dengan komponen teknologi lainnya. Hal ini diperlihatkan dengan uji F yang menunjukkan keberartian sangat nyata (Sig.=0,000) pada taraf  a=0,01. 
Tabel 2. Uji ANOVA Tingkat Kesulitan Penerapan Teknologi Trichokompos


Sum of Square
df
Mean Square
F
Sig.
Between Groups
Within Groups
Total
80,801

445,854

526,655
8

602

610
10,100
3,637
0,000
0,741







Dari sembilan komponen teknologi yang ditanyakan kepada responden didapat bahwa “mendapatkan agen hayati” berupa Trichoderma sp merupakan komponen teknologi yang dianggap paling rendah tingkat kesulitannya, dengan nilai rataan 1,30.  Komponen teknologi ini memiliki tingkat kesulitan yang sangat nyata lebih rendah (a=0,05) dibandingkan dengan komponen teknologi lainnya.  Hal ini dapat dimaklumi mengingat pada saat penelitian, kebutuhan petani akan agen hayati masih dibantu oleh pemerintah, baik melalui Pos IPAH maupun dikirim langsung dari provinsi melalui petugas PHP (Pengamat Hama Pertanian) setempat.  Penyediaan Trichoderma sp oleh Pos IPAH ini dilakukan dengan dua cara yaitu: (1) petani menyediakan bahan yang dibutuhkan kemudian secara bersama melakukan perbanyakan; dan (2) pengurus Pos IPAH melakukan perbanyakan kemudian petani membeli dari Pos IPAH.  Dengan mekanisme tersebut, petani tidak merasakan kesulitan dalam mendapatkan agen hayati.  
 

Tabel 3. Uji Jarak Duncan Tingkat Kesulitan Penerapan Teknologi Trichokompos

Komponen
teknologi
N
Subset for alpha = 0.05

1
2
3
4

a.    Mendapatkan agen hayati
74
1,300




b.    Membongkar kompos
75

1,969



c.    Menebar kompos
75

1,989



d.   Mengumpulkan jerami
75

2,000



e.    Menumpuk bahan kompos
74

2,159






f.     Mendapatkan kotoran ternak
75

2,252
2,252


g.    Membalik kompos
72

2,288
2,288


h.    Mendapatkan plastik penutup
75


2,551


i.      Mencacah jerami
16



2,921

Sig.

1,000
0,097
0,091
1,000

Means for groups in homogeneous subsets are displayed.



Sementara itu komponen teknologi yang mempunyai tingkat kesulitan tertinggi adalah “mencacah jerami” dengan rataan nilai 2,92.   Nilai ini sangat nyata lebih tinggi dibandingkan dengan delapan komponen teknologi lainnya pada a=0,05.  Hanya saja tidak semua petani melakukan pencacahan jerami tetapi ditemukan hanya 16 responden  petani yang melakukan pencacahan.  Terpilihnya pencacahan jerami sebagai komponen teknologi yang paling sulit dirasakan petani patut mendapatkan perhatian.  Mengacu pada petunjuk pembuatan Trichokompos yang disebarluaskan oleh BPTPH Provinsi Jambi (BPTPH, 2009),  komponen teknologi pencacahan jerami tidak termasuk dalam tahapan pembuatan Trichokompos yang dianjurkan.  Dengan demikian berarti ada instansi lain, selain BPTPH Provinsi Jambi, yang telah menyebarkan teknologi Trichokompos kepada petani di wilayah penelitian dengan menganjurkan penerapan pencacahan jerami. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Misra dan Roy (2006) bahwa pencacahan jerami dalam pembuatan Trichokompos berfungsi untuk mempercepat proses pengomposan.  Dilaporkan oleh Cuevas (1993) bahwa penerapan teknologi Trichokompos di Philipina dilakukan dengan tanpa pencacahan jerami dan menghasilkan kompos yang cukup baik.
Mempertimbangkan kesulitan petani dalam menerapkan suatu teknologi penting artinya dalam penyebarluasan teknologi tersebut. Pengalaman Cuevas (1993) menunjukkan bahwa kesulitan petani dalam mendapatkan bahan baku, seperti kotoran ternak merupakan salah satu penyebab banyaknya petani yang telah menerapkan teknologi Trichokompos menjadi berbalik tidak menerapkan lagi.   Oleh karena itu diperlukan metode alternatif agar petani dapat terus menerapkan teknologi anjuran seperti penggantian kotoran ternak dengan daun kacang-kacangan, walaupun konsekuensinya memperpanjang waktu pengomposan dari 2,5 menjadi 5 minggu. Wijayanto (2005) menemukan pengaruh yang nyata antara penilaian petani terhadap sifat teknologi dengan tingkat adopsi teknologi PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu).  Ciri sifat teknologi yang dinilai negatif oleh petani, antara lain adalah  komponen teknologi PTT cukup rumit.  Rogers dan Shoemaker (1987) bahwa waktu yang dibutuhkan untuk proses adopsi sangat bervariasi bergantung pada sifat inovasi yang mencakup kompleksitas yaitu tingkat kerumitan penerapan inovasi.  Untuk mengatasi kesulitan petani dalam pencacahan jerami maka perlu dipertimbangkan penerapan teknologi Trichokompos tanpa proses pencacahan jerami.  Metode ini sesungguhnya sudah diterapkan oleh sebagian besar responden, hanya saja tidak diperoleh informasi mengenai perbedaan kualitas kompos antara yang dibuat dengan pencacahan dengan tanpa pencacahan jerami.

Persepsi Petani

Hasil analisis validitas delapan butir pernyataan mengenai persepsi petani tentang teknologi Trichokompos, didapat bahwa semua butir persepsi dinyatakan valid, yang diperlihatkan oleh korelasi masing-masing butir dengan total nilai butir yang memiliki keberartian yang sangat nyata (a = 0,05).  Hasil analisis reliabilitas terhadap delapan butir pernyataan tersebut menghasilkan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,585. Menurut Nugroho (2005), suatu instrumen penelitian dianggap mempunyai  realibilitas yang baik apabila mempunyai nilai Cronbach’s Alpha > 0,6.  Dengan demikian instrumen yang digunakan pada penelitian belum cukup handal untuk digunakan pada penelitian serupa di tempat lain.

Tabel 4. Hasil Uji Beda Nyata Persepsi tentang Teknologi Pupuk Organik

Item Pernyataan
Rataan Skor

Nilai-p
M
T
a.       Pembuatan pupuk organik membutuhkan orang yang ahli
b.      Penggunaan pupuk organik belum tentu meningkatkan produksi padi
c.       Penggunaan pupuk organik dapat memperbaiki tanah
d.      Jerami padi harus dikembalikan ke tanah agar tanah tidak menjadi miskin
e.       Penggunaan pupuk organik dapat mengurangi penyakit tanaman
f.       Pemanfaatan jerami yang baik adalah dengan dibakar
g.      Penggunaan pupuk organik dapat mengurangi kebutuhan pupuk kimia
h.      Penggunaan pupuk organik jerami belum tentu menguntungkan
4,19

3,79

3,85

3,75


3,47
 
4,38

3,72

3,97

4,12

3,32
 
3,45

3,53


3,28

4,27

3,23

3,72
0,563

0,005

0,004

0,092


0,153

0,196

0,000

0,120
Keseluruhan
3,56
3,37
0,000

Catatan:
-     M = Petani yang menerapkan teknologi Trichokompos
-     T  = Petani yang tidak menerapkan teknologi Trichokompos

Penilaian seseorang terhadap suatu objek diwujudkan dalam bentuk persepsi.  Simamora (2008) mendefinisikan persepsi sebagai “suatu proses dengan mana seseorang menyeleksi, mengorganisasikan, dan menginterpretasikan stimuli ke dalam suatu gambaran dunia yang berarti dan menyuluruh”.  Hasil analisis menunjukkan ada perbedaan persepsi tentang teknologi Trichokompos  antara petani yang menerapkan  dengan yang tidak menerapkan teknologi ini (a=0,01).  Persepsi petani yang menerapkan teknologi Trichokompos lebih baik dibandingkan dengan petani yang tidak menerapkan.  Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Hariadi (2006) yang menemukan bahwa semakin baik persepsi petani tentang pengendalian hama dan penyakit maka perilaku petani dalam pengendalian hama dan penyakit semakin baik.  Sementara itu, Ritohardoyo (2002) menemukan hubungan yang kuat antara pengetahuan dengan persepsi. Persepsi masyarakat terhadap penghijauan mempunyai korelasi jenjang yang sangat erat (r=0,85) dengan pengetahuan masyarakat tentang penghijauan.  Oleh karena itu upaya meningkatkan pengetahuan petani tentang manfaat teknologi Trichokompos menjadi sangat penting dilakukan agar persepsi petani tentang teknologi ini dapat meningkat sehingga akan mempercepat adopsi teknologi ini.
Dengan cara membandingkan antara persepsi responden yang menerapkan dan tidak menerapkan teknologi Trichokompos, didapat tiga butir pernyataan persepsi yang memiliki perbedaan sangat nyata (nilai-p<0,01) yaitu butir (b); (c) dan (g).  Terhadap ketiga butir persepsi ini didapat bahwa responden yang tidak menerapkan teknologi Trichokompos memiliki nilai persepsi yang  lebih rendah dibandingkan dengan persepsi responden yang menerapkan teknologi ini.  Hal ini memberikan gambaran bahwa petani yang tidak menerapkan teknologi Trichokompos cenderung memiliki pengetahuan yang lebih rendah berkenaan ketiga aspek tersebut.  Guna penyebarluasan teknologi Trichokompos, materi sosialisasi yang berkaitan dengan ketiga aspek tersebut perlu mendapatkan perhatian.

Kendala Penerapan

Terhadap responden yang tidak menerapkan teknologi Trichokompos, ditanyakan kendala utama yang mereka hadapi sehingga tidak menerapkan teknologi ini.  Dari rangkuman jawaban petani tersebut didapat jawaban sebagai berikut:
a.       Tidak memiliki cukup waktu dan tenaga kerja (30%)
b.      Masih kurang sosialisasi tentang penerapan teknologi Trichokompos (23%)
c.       Sulit mendapatkan agen hayati (19%)
d.      Sulit mendapatkan kotoran ternak (15%)
e.       Sulit mencacah jerami (7%)
f.       Penanaman padi setahun sekali (4%)
g.      Lain-lain (2%)
Kendala petani “tidak memiliki cukup waktu dan tenaga kerja” sesungguhnya bukan merupakan jawaban yang realistis.  Jika dilihat dari indeks ketersediaan tenaga kerja keluarga per-luasan areal pertanaman, ternyata tidak ditemukan perbedaan yang nyata antara petani yang menerapkan dengan tidak menerapkan teknologi Trichokompos.  Oleh karena itu alasan yang disampaikan petani ini cenderung lebih disebabkan oleh persepsi petani yang masih kurang baik tentang teknologi Trcihokompos sehingga ada keengganan petani untuk menyediakan tenaga kerja keluarga mereka dalam pembuatan Trichokompos.  Hal ini diperkuat dengan kendala yang memiliki tingkat kepentingan peringkat kedua yaitu “masih kurangnya sosialisasi tentang penerapan teknologi Trichokompos”.  Kurangnya sosialisasi ini memberikan gambaran bahwa petani yang tidak menerapkan teknologi ini masih memerlukan dorongan dari pihak lain untuk lebih meyakinkan mereka tentang manfaat dan metode penerapan teknologi Trichokompos. 
Kendala dalam mendapatkan agen hayati umumnya ditemui pada petani yang kurang aktif di dalam kelompoktani setempat sehingga tidak mendapatkan informasi yang jelas mengenai tatacara memperoleh agen hayati.  Sejauh ini BPTPH Provinsi Jambi selalu menyediakan agen hayati yang dibutuhkan, baik melalui Pos IPAH ataupun didistribusi melalui PHP setempat.  Kendala dalam mendapatkan kotoran ternak umumnya ditemui pada petani yang tidak memiliki ternak.   Pada responden  yang menerapkan teknologi ini tidak teridentifikasi adanya kesulitan dalam mendapatkan kotoran ternak karena sebagian besar petani memiliki ternak.  

Strategi dan Langkah Pengembangan

Upaya pengembangan teknologi Trichokompos bagi petani padi sawah di Provinsi Jambi perlu dilakukan melalui penyebarluasan metode yang lebih sederhana.  Dari penelitian didapat bahwa pencacahan jerami merupakan komponen teknologi yang dirasakan paling sulit oleh petani.  Oleh karena itu strategi utama yang perlu diterapkan dalam penyebaran teknologi Trichokompos adalah pengembangan metode pembuatan Trichokompos dengan tanpa pencacahan jerami.  Untuk itu perlu kajian lebih lanjut untuk mendukung penerapannya guna mengetahui beberapa aspek yang berkaitan dengan proses pengimposan seperti lama waktu pengomposan yang terbaik, dosis bioaktivator serta penggunaan bahan pencampur yang dapat mempercepat proses pengomposan.  Sebagaimana yang dikatakan oleh Misra dan Roy (2006) bahwa pencacahan jerami dalam pembuatan Trichokompos berfungsi untuk mempercepat proses pengomposan.  Penggunaan bahan pencampur berupa kotoran ternak yang selama ini direkomendasikan perlu dipertimbangkan, terutama pada petani yang tidak memiliki ternak.  Salah satu metode alternatif pembuatan Trichokompos tanpa kotoran ternak adalah dengan menggunakan daun kacang-kacangan sebagai sumber nitrogen, sebagaimana yang dikemukakan oleh Cuevas (1993) dan dibuktikan oleh Endriani dan Jamal (2009) dengan hasil yang cukup baik.
Kordinasi antar instansi terkait dalam penyebaran teknologi Trichokompos perlu dibangun secara lebih baik.  Dari penelitian ini diperoleh bukti adanya kordinasi yang kurang lancar antara BPTPH Provinsi Jambi dengan instansi teknis di tingkat kebupaten.  Di dalam petunjuk yang disusun oleh BPTPH Provinsi Jambi tidak tercantum anjuran untuk  mencacah jerami padi sebagai bagian dari proses pembuatan Trichokompos.  Sedangkan di lapangan ditemukan sebagian petani telah menerapkan teknologi Trichokompos dengan menggunakan metode pencacahan jerami. Hal ini tentunya akan membuat petani menjadi bingung dalam menentukan metode yang paling sesuai untuk mereka terapkan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Dari hasil penelitian ini maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
1.      Dari sembilan komponen teknologi pembuatan Trichokompos ditemukan bahwa pencacahan jerami merupakan komponen teknologi yang dirasakan paling sulit diterapkan oleh petani
2.      Petani yang tidak menerapkan teknologi Trichokompos memiliki nilai persepsi  yang sangat nyata lebih rendah dibandingkan dengan  petani yang menerapkan teknologi ini tentang: (a) manfaat penggunaan pupuk organik dalam meningkatkan produksi padi, (b) manfaat penggunaan pupuk organik dalam memperbaiki tanah, dan (c) manfaat penggunaan pupuk organik dalam mengurangi kebutuhan pupuk kimia.
3.      Empat kendala terpenting bagi petani yang tidak menerapkan teknologi Trichokompos adalah: (a) Tidak memiliki cukup waktu dan tenaga kerja (30%), (b) Masih kurang sosialisasi tentang penerapan teknologi Trichokompos (23%), (c) Sulit mendapatkan agen hayati (19%), dan Sulit mendapatkan kotoran ternak (15%).
Saran

Guna meningkatkan pemanfaatan jerami padi untuk pembuatan pupuk organik melalui penerapan teknologi Trichokompos, disarankan kepada instansi terkait untuk:
a.       Melakukan kajian lapangan mengenai penerapan metode alternatif yang lebih sederhana dalam pembuatan Trichokompos berbahan dasar jerami, antara lain pembuatan Trichokompos dengan tanpa pencacahan jerami dan tanpa penggunaan kotoran ternak atau penggantian kotoran ternak dengan daun kacang-kacangan.
b.      Melakukan kordinasi di antara instansi terkait dalam sosialisasi penerapan teknologi Trichokompos. 

DAFTAR PUSTAKA

Ancok, D. 1997. Teknik Penyusunan Skala Pengukuran. Pusat Penelitian Kependudukan UGM, Yogyakarta.
BPTPH Jambi. 2009. Teknik Pembuatan Kompos Jerami.  Leaflet.  Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jambi.
Anonim. 2010. Implementasi PHT Padi dan Pemasyarakatan Trichokompos.  Balai Perlidungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jambi.
Azwar, S. 1995.  Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya.  Pustaka Pelajar.  Yogyakarta.
Cuevas, V. 1993.  Rapid Composting Fits Rice Farmers.  ILEIA Newsletter.   9(2):. 11-12.  [http://ileia.leisa.info].
Endriani dan H. Jamal. 2009. Laporan Hasil Penelitian Pengolahan Jerami Padi sebagai Bahan Dasar Pupuk Organik dengan Bioaktivator Trichoderma sp.  Balitbangda Provinsi Jambi.
Faisal, S. 2003. Format-format Penelitian Sosial.  Cetakan ke-6. PT. Raja Grafindo Persada,  Jakarta.
Hariadi, S.S. 2006. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku petani dalam pengendalian hama dan penyakit tumbuhan melalui analisis jalur.  Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia.  12 (1): 44-52.
Jambi Star. 2009. Penggunaan Pupuk Kimia Dikurangi. Harian Jambi Star tanggal 01 Mei 2009.
Misra, R.V. and R.N. Roy. 2006.  On-farm Composting Methods.  FAO. Rome.  [http://www.fao.org/teca/default/fiels/technologies/10-on-farm-methodes. pdf].
Nugroho, B.A. 2005. Strategi Jitu Memilih Metode Statistik Penelitian dengan SPSS.  Penerbit Andi, Yogyakarta.
Ritohardoyo, S. 2002. Peranserta masyarakat dalam penghijauan: Kasus Kabupaten Gunung Kidul Daerah Istimewa Yogyakarta.  Forum Geografi.  16 (2): 156-175.
Rogers, E. M. dan F. Shoemaker.  1987. Memasyarakatkan Ide-ide Baru. Cetakan ke IV.  Disarikan oleh Drs. Abdilah Hanafi.  Usaha Nasional, Surabaya.
Simamora, B. 2008.  Panduan Riset Perilaku Konsumen.  PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Suryabrata, S.. 1998. Pengembangan Alat Ukur Psikologis. Direktorat  Jenderal Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,  Jakarta.
Triola, M.F. 1998.  Elementary Statistics.  7th Edition.  Addison – Westley Longman Inc, New York.
Waryanto, B. dan Y.A. Millafati. 2006. Transformasi data skala ordinal ke interval dengan menggunakan minitab. Informatika Pertanian. 15: 881-895.
Wijayanto, B. 2005. Tingkat adopsi pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu padi sawah irigasi di Kabupaten Lampung Tengah.  Sekolah Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada.  Tesis (Tidak Dipublikasi).
(Diterbitkan pada Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Volume 14 Nomor 3, November 2011; pp. 171 – 180)

Tidak ada komentar: