Rabu, 03 September 2008

Analisis Faktor Penentu Kemampuan Pemeliharaan Ternak (KPT)

Intisari
Suatu penelitian yang bertujuan untuk menganalisis sejumlah variabel untuk dijadikan sebagai faktor penentu Kemampuan Pemeliharaan Ternak (KPT) sapi potong suatu rumah tangga petani kecil telah dilaksanakan pada pertengahan tahun 2006. Variabel yang digunakan adalah Jumlah Tenaga Kerja Keluarga, Jenis Usahatani Pokok, Penanaman HMT, dan Sikap terhadap Pengembangan Sapi Potong. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survey dengan jumlah responden sebanyak 183 kepala keluarga petani peternak pada tiga kawasan pengembangan sapi potong di Provinsi Jambi yaitu kawasan Singkut, Kabupaten Sarolangun; Pamenang, Kabupaten Merangin; dan Kuamang Kuning, Kabupaten Bungo. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan linier yang sangat nyata (p<0,01) antara Jumlah Tenaga Kerja Keluarga dan nyata (p<0,05) antara Penanaman HMT dengan KPT sapi potong. Persamaan regresi terbaik sebagai penduga KPT sapi potong adalah model Exponensial dengan persamaan ln Y = 0,42 + 0,17 X (r2 = 0,093). Disimpulkan bahwa hanya Jumlah Tenaga Kerja Keluarga (X) yang dapat digunakan sebagai faktor penentukan KPT sapi potong (Y), dengan daya penentu yang sangat lemah.
Kata Kunci: Kemampuan Pemeliharaan Ternak, Sapi Potong

Abstract

A research with the aim to analyze some variables as determining factors of beef cattle Livestock Keeping Capacity (LKC) for a smallholder farmer family was conducted on the mid 2006. The determining factors used were the Number of Family Labors, the Main Farming Activity, the Availability of Forage Plantation, and the Attitude toward Beef Cattle Development. The method used in the research was survey with respondents of 183 heads of farmer family who were keeping beef cattle in the three beef cattle development areas of Jambi Province: the development area of Singkut, Sarolangun Regency; Pamenang, Merangin Regency; and Kuamang Kuning, Bungo Regency. The result of the research showed that there was a very significant relationship (p<0.01) between the Number of Family Labors and a significant relationship (p<0.05) between the Availability of Forage Plantation to the LKC. The best regression equation for determining the LKC of beef cattle was Exponential model with the equation Y = 0.42 + 0.17 X (r2 = 0.093). It was concluded that only the Number of Family Labors (X) could be used as a determining factor for the LKC of beef cattle (Y), althought with a very weak determining power.
Key Words: Livestock Keeping Capability, Beef Cattle

Latar Belakang
Metode yang paling umum digunakan saat ini untuk mengetahui kapasitas pengembangan sapi potong di suatu wilayah adalah dengan pendekatan ketersediaan pakan, sebagaimana yang digunakan oleh Setyono (1995) dan Haeruddin (2004). Penerapan metode ini dilakukan dengan menghitung jumlah cadangan pakan potensial yang tersedia di suatu wilayah, kemudian dari jumlah tersebut dihitung daya tampung ternak yang dapat dipelihara. Sesungguhnya hasil perhitungan dengan metode seperti ini kurang memiliki kegunaan praktis karena tidak mempertimbangkan kemampuan sumberdaya manusia yang ada di wilayah tersebut. Ketersediaan pakan tidak akan mempunyai arti apa-apa jika di suatu wilayah tidak tersedia sumberdaya manusia yang mampu untuk memelihara ternak. Sebaliknya dengan ketersediaan pakan aktual yang terbatas, dapat dipelihara ternak dengan jumlah yang lebih besar apabila sumberdaya manusia di wilayah tersebut dapat mengembangkan sendiri sumber pakan seperti melalui penanaman HMT (Hijauan Makanan Ternak). Oleh karena itu untuk tujuan perencanaan diperlukan suatu metode perhitungan kapasitas tampung pengembangan peternakan sapi potong yang lebih memiliki kegunaan praktis dengan mempertimbangkan kemampuan sumberdaya manusia.
Daya tampung ternak suatu wilayah pada hakikatnya adalah jumlah ternak yang mampu dipelihara oleh rumah tangga petani yang ada di wilayah tersebut. Jumlah ternak yang mampu dipelihara oleh suatu rumah tangga, yang selanjutnya disebut dengan KPT (Kemampuan Pemeliharaan Ternak), ditentukan oleh tiga faktor utama yaitu: (a) ketersediaan tenaga kerja untuk pengelolaan ternak; (b) tingkat kesulitan dalam pengelolaan ternak; serta (c) kemauan petani itu sendiri untuk memelihara ternak. Hanya saja untuk menghitung secara kuantitatif besaran ketiga faktor diatas sangat rumit sehingga perlu dicarikan suatu pendekatan indikatif dengan menganalisis beberapa variabel yang memiliki hubungan erat dengan ketiga faktor penentu diatas, sebagaimana yang digunakan pada penelitian ini. Untuk melihat ketersediaan tenaga kerja digunakan variabel Jumlah Tenaga Kerja Keluarga tersedia dan Jenis Usahatani Pokok. Kemudahan dalam pemeliharaan ternak dilihat dari Penanaman HMT karena teknologi ini yang paling membutuhkan curahan tenaga kerja dalam jumlah yang besar pada pengelolaan sapi potong. Sedangkan kemauan untuk memelihara ternak dinilai dengan Sikap terhadap Pengembangan Sapi Potong. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara KPT sapi potong dengan empat variabel indikatif yang diamati, yang kemudian digunakan untuk menentukan persamaan regresi terbaik dalam menghitung KPT sapi potong di suatu wilayah.

Metode

Penelitian dilakukan melalui suatu survey terhadap peternak di tiga kawasan pengembangan sapi potong Provinsi Jambi yaitu Kawasan Singkut di Kabupaten Sarolangun, Kawasan Pamenang di Kabupaten Merangin dan Kawasan Kuamang Kuning di Kabupaten Bungo. Responden penelitian adalah petani peternak sapi potong yang ditentukan dengan cara snowball (Nasution, 2004) pada sejumlah desa pengembangan prioritas di masing-masing kawasan. Jumlah responden adalah 183 KK (Kepala Keluarga) dengan mempertimbangkan keterwakilan karakterisktik tertentu dari responden yaitu jumlah ternak yang dipelihara.
Data primer dikumpulkan pada akhir Mei 2006 melalui wawancara dengan responden dan pengamatan lapangan. Data primer yang dikumpulkan mencakup dua aspek utama yaitu: (1) identitas serta berbagai informasi yang berkaitan dengan aktivitas pengembangan sapi potong responden; dan (2) sikap responden terhadap pengembangan sapi potong yang ia lakukan. Data pada aspek pertama dikumpulkan melalui sejumlah pertanyaan yang disusun dalam format pertanyaan terbuka maupun pilihan. Sedangkan untuk data aspek kedua dibuat dalam format summated rating atau skala Likert sebagaimana yang disarankan oleh Suryabrata (1998); Azwar (1995); dan Ancok (1997).
Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program SPSS 12.0 for Windows. Analisis data yang dilakukan terdiri dari: (1) Uji korelasi yang dilakukan untuk melihat kecenderungan hubungan antara KPT dengan keempat variabel indikatif yang diamati. Analisis ini dilakukan dengan menggunakan uji korelasi Spearman sebagaimana yang disarankan oleh Foody (1988), yang juga digunakan oleh Ihsan dan Nasich (2003). (2) Penentuan persamaan regresi antara KPT dengan variabel yang diamati. Metode penentuan yang digunakan mengacu pada saran Basuki dan Hadjam (1986) dan Triola (1997), dengan mencoba berbagai model regresi yang menggunakan korelasi Pearson kemudian memilih bentuk persamaan terbaik. Pengambilan kesimpulan atas hasil uji mengacu pada petunjuk penggunaan program SPSS yang disusun oleh Nugroho (2005).

Hasil dan Pembahasan
Kemampuan Pemiliharaan Ternak (KPT)
KPT adalah jumlah sapi potong maksimum yang mampu dipelihara oleh suatu rumah tangga petani atas dasar jawaban responden pada saat survey, dengan mengacu pada pengalaman pemeliharaan ternak yang telah mereka lakukan. Satuan yang digunakan untuk KPT adalah ST (Satuan Ternak)/ RT (Rumah Tangga). Besaran ST mengacu pada Matondang et al. (1998) yaitu sapi dewasa = 1 ST; sapi dara / bujang = 0,6 ST; dan anak = 0,25 ST. Dari data yang diperoleh ditemui rentang KPT responden antara 0,60 sampai dengan 8,50 ST/RT. Jika rentang KPT tersebut dibagi dalam lima kategori yaitu Sangat Rendah, Rendah, Sedang, Tinggi dan Sangat Tinggi maka didapat mayoritas responden (46%) berada pada kategori Rendah (2,19 – 3,76 ST/RT); 43% pada kategori Sangat Rendah (0,60 – 2,18 ST/RT) dan sisa berada pada tiga kategori yang lain. Hasil analisis korelasi Spearman antara nilai KPT dengan keempat variabel yang diamati terangkum pada tabel 1 dan dijelaskan berikut ini.

a. Jumlah Tenaga Kerja Keluarga
Ketersediaan tenaga kerja keluarga pada petani kecil erat kaitannya dengan kebutuhan tenaga kerja untuk pemeliharaan ternak seperti untuk mengambil pakan dan pengelolaan kandang. Mulyana (2004) menemukan kebutuhan tenaga kerja untuk pemeliharaan per-ST sapi potong sebanyak 619,43 Jam Kerja Pria per-tahun. Pada penelitian ini satuan Jumlah Tenaga Kerja Keluarga yang digunakan adalah OK (Orang Kerja) yang mengacu pada Kasup (1998), dimana untuk pria dewasa = 1 OK; wanita dewasa = 0,8 OK dan anak-anak = 0,5 OK. Jika Jumlah Tenaga Kerja Keluarga responden dikelompokkan ke dalam lima ketegori yaitu Sangat Rendah, Rendah, Sedang, Tinggi dan Sangat Tinggi maka diperoleh mayoritas responden (46%) memiliki Jumlah Tenaga Kerja Keluarga pada kategori Rendah (1,77 – 2,52 OK); 32% pada kategori Sedang (2,53 – 3,28 OK) dan sisanya berada pada tiga kategori lainnya.

Tabel 1. Hasil Analisis Korelasi Spearman antar KPT Sapi Potong dengan Sejumlah Variabel

1. Jumlah Tenaga Kerja Keluarga: 0,288 (p = 0,000)
2. Jenis Usahatani Pokok: 0,126 (p = 0,090)
3. Penanaman HMT: 0,147 (p = 0,047)
4. Sikap terhadap Pengem-bangan Sapi Potong:0,123 (p = 0,096)

Hasil analisis korelasi Jumlah Tenaga Kerja Keluarga terhadap KPT diperoleh hubungan positif yang sangat nyata (p<0,01). Hanya saja dilihat dari nilai r (koefisien korelasi) kedua variabel ini maka keeratan hubungannya termasuk kategori rendah. Hal ini menunjukkan bahwa Jumlah Tenaga Kerja Keluarga bukannya faktor yang dominan dalam menentukan jumlah ternak sapi potong yang mampu dipelihara oleh suatu rumah tangga petani. Rendahnya korelasi kedua variabel ini dapat dikarenakan Jumlah Tenaga Kerja Keluarga hanya dihitung berdasarkan jumlah anggota keluarga yang ada di dalam rumah tangga responden, bukan tenaga kerja potensial yang betul-betul dapat dimanfaatkan untuk membantu pengelolaan ternak.

b. Jenis Usahatani Pokok

Jenis Usahatani Pokok erat kaitannya dengan ketersediaan tenaga kerja tersisa yang dapat digunakan untuk pengelolaan ternak. Penggunaan variabel ini dilakukan karena pemeliharaan ternak sapi potong pada petani kecil umumnya merupakan pekerjaan sambilan. Novra dan Fitriani (2000) menemukan hubungan yang nyata antara peningkatan skala usaha pemeliharaan sapi potong dengan jumlah waktu luang yang dimiliki petani. Di lokasi penelitian ditemukan dua usahatani pokok yaitu perkebunan kelapa sawit dan perkebunan karet. Secara umum petani kelapa sawit memiliki tenaga kerja sisa yang lebih besar dibandingkan dengan petani karet. Hal ini dikarenakan pada usahatani kelapa sawit pemanenan dilakukan rata-rata dua minggu sekali, sementara itu pada karet dilakukan setiap hari.
Dalam analisis data yang dilakukan pada penelitian ini Jenis Usahatani Pokok diperlakukan sebagai variabel dummy (Carlson dan Thorne, 1997), dimana responden dengan Jenis Usahatani Pokok karet diberi nilai 0 dan kelapa sawit diberi nilai 1. Dari data yang dikumpulkan ditemui 122 KK responden memiliki usatani pokok kelapa sawit dan 61 KK karet. Hasil analisis tidak menunjukkan adanya korelasi yang nyata (p>0,05) antara Jenis Usahatani Pokok dengan KPT. Hal ini dapat disebabkan karena dalam penelitian ini tidak memperhitungkan luasan areal dan pola pengelolaan usahatani pokok masing-masing responden sehingga data yang diperoleh tidak mencerminkan tenaga kerja yang secara riil tersisa sebagai tenaga kerja yang dapat digunakan untuk pengelolaan ternak.
c. Penanaman HMT

Penanaman HMT oleh responden erat kaitannya dengan kemudahan petani dalam penyediaan pakan hijauan. Variabel ini digunakan mengingat pola penyediaan pakan yang diterapkan di lokasi penelitian adalah sistem cut and carry. Dengan penerapan pola ini maka pemenuhan kebutuhan pakan ternak sangat ditentukan oleh kemampuan petani menyediakan pakan. Dengan semakin mudahnya petani menyediakan pakan hijauan diharapkan akan semakin meningkat kemampuan mereka dalam memelihara ternak. Pada penelitian ini, Penanaman HMT merupakan variabel dummy, dimana responden yang tidak menanam HMT diberi nilai 0 dan yang menanam diberi nilai 1. Ditemui 89 KK responden yang tidak menanam HMT dan 94 KK yang menanam. Dari hasil analisis diperoleh korelasi positif yang nyata (p<0,05) antara Penanaman HMT dengan KPT sapi potong, walaupun dengan tingkat korelasi yang sangat rendah. Hasil analis ini kelihatannya berlawanan dengan fakta lapangan dimana ditemukan bahwa penyediaan pakan merupakan faktor pembatas utama yang dirasakan responden dalam pemeliharaan sapi potong mereka. Hal ini salah satunya disebabkan karena data yang dikumpulkan tidak mencakup luasan HMT yang ditanam responden. HMT yang ditanam oleh responden tidak saja di sekitar rumah tetapi juga di ladang yang jaraknya jauh dari rumah. Selain itu umum responden menggunakan HMT alam sebagai sumber pakan utama, sedangkan HMT yang ditanam hanya sebagai pakan tambahan atau cadangan.

d. Sikap terhadap Pengembangan Sapi Potong
Sikap (attitude) merupakan suatu konsep psikologi sosial yang sering digunakan para ahli untuk melihat kecenderung seseorang untuk perilaku tertentu. Oleh Triandis (1971) ditegaskan bahwa konsepsi sikap merupakan perwujudan adanya konsistensi antara pemikiran (thinking), perasaan (feeling) dan perbuatan (acting). Hal ini dipertegas oleh Ancok (1997) tentang adanya hubungan antara pengetahuan, sikap, niat dan perilaku. Metode ini telah digunakan untuk melihat perilaku petani dalam penerapan suatu inovasi oleh Wijayanto (2005) dan Zahid (1997). Dalam konteks penelitian ini digunakan asumsi bahwa semakin positif sikap seseorang terhadap pengembangan sapi potong maka akan semakin meningkat kemauannya untuk memelihara ternak tersebut.
Jika Sikap terhadap Pengembangan Sapi Potong responden dikelompokkan dalam lima kategori yaitu Sangat Negatif, Negatif, Netral, Positif dan Sangat Positif maka diperoleh mayoritas responden (39%) memiliki sikap pada kategori Sangat Positif; 25% pada kategori Positif dan sisanya pada kategori Netral, Negatif dan Sangat Negatif. Hasil analisis data responden tentang Sikap terhadap pengembangan Sapi Potong responden tidak menunjukkan adanya korelasi yang nyata (p>0,05) dengan KPT. Hal ini dapat dijelaskan karena sebagian besar responden memang sudah memiliki sikap yang baik terhadap pengembangan sapi potong. Sikap seperti ini tentunya terbangun dari manfaat yang telah banyak mereka peroleh dari hasil pemeliharaan ternak selama ini. Untuk diketahui bahwa lokasi survey adalah kawasan pengembangan ternak, yang sebagian besar anggota masyarakatnya secara sosial sudah sangat terbiasa dengan pemeliharaan sapi potong.

Persamaan Regresi

Dari hasil uji berbagai model regresi berganda diperoleh bahwa hanya variabel Jumlah Tenaga Kerja Keluarga yang memiliki nilai intersep dengan tingkat kepercayaan yang ditentukan (p<0,05). Dengan demikian tiga variabel lainnya tidak layak digunakan sebagai faktor penentu KPT. Model regresi terbaik yang diperoleh adalah model Exponensial dengan persamaan : lnY = 0,42 + 0,17 X (r2 = 0,093). Penentuan model terbaik ini didasarkan pada pertimbangan nilai r2 tertinggi, keragaman terendah dan tingkat kepercayaan tertinggi. Nilai r2 sebesar 0,093 memberikan makna bahwa Jumlah Tenaga Kerja Keluarga (X) hanya menentukan 9,3% dari KPT (Y), sisanya ditentukan oleh faktor lain. Hasil analisis ini menunjukkan variabel yang digunakan dalam persamaan yang diperoleh hanya memberikan manfaat yang sangat kecil dalam pendugaan KPT sapi potong.

Kesimpulan
Terdapat korelasi sangat nyata (p<0,01) antara Jumlah Tenaga Kerja Keluarga dan nyata (p<0,05) antara Penanaman HMT dengan KPT sapi potong pada peternak kecil. Hasil analisis lanjutan untuk mencari persamaan regresi terbaik untuk menentukan KPT sapi potong, diperoleh persamaan dengan daya penentu yang sangat lemah, yang tercermin dari nilai r2 yang sangat rendah. Salah satu penyebab tidak diperolehnya hubungan yang kuat antara variabel yang diamati dengan KPT diperkirakan karena data masing-masing variabel yang dikumpulkan bersifat sangat global. Untuk itu diperlukan suatu kajian yang lebih rinci terutama berkaitan dengan Ketersediaan Tenaga Kerja Keluarga sebagai Faktor Penentu KPT.

Daftar Pustaka

Ancok, D. 1997. Teknik Penyusunan Skala Pengukur. Pusat Penelitian Kependudukan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Azwar, S. 1995. Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Basuki, T.E.H dan M.A. Hadjam. 1986. Pengantar Ekonometrika. Edisi I. BPFE. Yogyakarta.

Carlson, W.L. dan B. Thorne. 1997. Applied Statistical Methods. Prentice Hall. USA.
Foody, W.H. 1988. Elementary Applied Statistics for the Social Sciences. Harper and Row Publishers. Sydney.

Haeruddin. 2004. Potensi dan Daya Dukung Limbah Pertanian sebagai Pakan Sapi Potong di Kabupaten Soppeng Sulawesi Selatan. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Tesis (tidak dipublikasi).

Ihsan, M.N. dan M. Nasich. 2003. Minat peternak terhadap Pelaksanaan Inseminasi Buatan pad kambing di Kabupaten Malang. Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan vol. VI no.3.

Kasup, I. 1998. Kesiapan Peternak dalam Pengembangan Usaha Peternakan Sapi. Institut Pertanian Bogor. Tesis (tidak dipublikasi).

Matondang et al. 1998. Analisa Faktor-faktor Produksi Sapi Potong di Lampung. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner 1- 2 Desember 1998. Hal. 611 – 617. Pusat Penelitian Peternakan Bogor.

Mulyana, S. 2004. Perbandingan Tingkat Pendapatan, Pencurahan Tenaga Kerja dan Produktivitas Tenaga Kerja antara Tiga Pola Usahatani Campuran Ternak Sapi dengan Tanaman Pangan. Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Peternakan. Vol. VII no. 2.

Nasution, S. 2004. Metode Research (Penelitian Ilmiah). Cetakan Ketujuh. Bumi Aksara. Jakarta.

Novra, A. dan A. Fitriani. 2000. Pengembangan Usaha Ternak Sapi dalam Rangka Pemerataan Pendapatan Usahatani dan Penggunaan Tenaga Kerja Keluarga Transmigran. Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Peternakan. Vol. III no. 3.

Nugroho, B.A. 2005. Strategi Jitu Memilih Metode Statistik Penelitian dengan SPSS. Penerbit Andi. Yogyakarta.

Setyono, D.J. 1995. Analisis Struktur dan Perencanaan Tata Ruang Usaha Ternak Sapi Potong di Kabupaten Lombok Barat Propinsi Nusa Tenggara Barat. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Tesis (tidak dipublikasi).

Suryabrata, S. 1998. Pengembangan Alat Ukur Psikologis. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.

Triandis, H.C. 1971. Attitude and Attitude Change. John Wiley & Sons. New York

Triola, M.F. 1997. Elementary Statistics. 7th Edition. Addison – Wesley. Massachussetts.

Wijayanto, B. 2005. Tingkat Adopsi Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu Padi Sawah Irigasi di Kabupaten Lampung Tengah. Sekolah Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada. Tesis (Tidak Dipublikasi).

Zahid, A. 1997. Hubungan Karakteristik Peternak Sapi Perah dengan Sikap dan Perilaku Aktual dalam Pengelolaan Limbah Peternakan. Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Tesis (Tidak Dipublikasi).

(Diterbitkan pada Jurnal Ilmu-ilmu Peternakan Volume X nomor 1 Pebruari 2007)

Tidak ada komentar: