Rabu, 03 September 2008

STUDI PENDAHULUAN KINERJA KELOMPOKTANI

ABSTRAK

Studi pendahuluan ini merupakan suatu penelitian deskriptif yang bertujuan untuk melihat kinerja kelompoktani di Provinsi Jambi dengan menggunakan metode yang sederhana. Pengumpulan data dilakukan dengan metode tidak langsung melalui menyebarkan angket kepada 291 responden yaitu PPL yang membina kelompoktani di sepuluh kabupaten / kota yang ada di Provinsi Jambi. Untuk mengetahui kinerja kelompoktani digunakan tiga indikator utama yaitu pertemuan rutin, pemupukan modal dan pergantian kepengurusan kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah kelompoktani yang dibina oleh seluruh responden adalah sebanyak 2.326 kelompok, yang terdiri 17 kelompok kelas utama, 188 madya, 806 lanjut, 928 pemula, 368 belum dikukuhkan dan 19 kelompok tidak diketahui kelasnya. Dari jumlah tersebut 53,02% kelompoktani tidak melakukan pertemuan rutin sedangkan sisanya mempunyai kegiatan pertemuan rutin. Kelompoktani yang tidak mengelola uang kas kelompok sebanyak 58,12% sedangkan sisanya mengelola uang kas sampai dengan. Sementara itu kelompoktani yang melakukan pergantian kepengurusan secara rutin sebanyak 39,01%, sedangkan sisanya melakukan pergantian pengurus dalam selang waktu yang tidak tentu. Didapat 33 responden yang tidak mengetahui tentang kegiatan pertemuan rutin 200 kelompoktani binaannya; 57 responden yang tidak mengetahui tentang pemupukan modal 417 kelompoktani binaanya.; dan 60 responden yang tidak mengetahui tentang pergantian pengurus 450 kelompoktani binaannya..


1. Pendahuluan

Perubahan paradigma pembangunan pertanian Indonesia, dari peningkatan produksi menjadi pendekatan agribisnis, membutuhkan petani dengan posisi tawar yang kuat. Hal ini hanya dapat dicapai jika petani mampu berhimpun dalam suatu kekuatan bersama, seperti halnya kelompoktani. Kelompoktani yang berfungsi sebagai kelas belajar, unit produksi usahatani nelayan dan wahana kerjasama antar anggota kelompok atau antara anggota kelompok dengan pihak lain (Deptan, 1989) merupakan salah satu kebutuhan dalam proses industrialisasi pertanian. Kelompoktani merupakan sarana untuk menggali potensi sumberdaya manusia, baik potensi mental psikologisnya maupun potensi fisik teknis yang dimiliki petani (Adjid, 1981).
Sedikitnya ada tiga alasan mengapa diperlukan kelompoktani dalam pembangunan pertanian di pedesaan Indonesia. Pertama, rendahnya rasio jumlah PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) dibandingkan dengan jumlah petani sehingga diperlukan wadah yang dapat mempermudah kerja PPL dalam melaksanakan tugas penyuluhan mereka. Kedua, terbatasnya sumberdaya yang dimiliki petani secara individual sehingga dengan bekerjasama dalam kelompok akan mendorong petani untuk menggabung sumberdaya mereka menjadi lebih ekonomis. Ketiga, perilaku berkelompok sudah merupakan budaya Indonesia, terutama di pedesaan. Sebagian besar aktivitas masyarakat pedesaan sangat dipengaruhi oleh keputusan kelompok (Martaamidjaja, 1993). Oleh karena itu kinerja kelompoktani merupakan salah satu aspek penunjang yang penting dalam menentukan keberhasilan pembangunan agribisnis, terutama di pedesaan.
Saat ini di Provinsi Jambi terdapat 6.287 kelompoktani (BBKP, 2003). Hanya saja tidak ditemui adanya informasi yang layak mengenai kinerja kelompotani yang ada, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten. Salah satu kesulitan dalam menyediakan informasi mengenai kinerja kelompoktani adalah dikarenakan indikator yang digunakan selama ini yaitu Lima Jurus Kelompok bersifat sangat kualitatif sehingga relatif sulit diukur. Guna mendapatkan gambaran umum mengenai kinerja kelompoktani yang ada di Provinsi Jambi maka dilakukan penelitian ini. Penelitian ini disebut sebagai studi pendahuluan karena aspek yang dikaji hanya berupa kinerja manajemen internal kelompok yang mudah diamati secara kuantitatif saja. Selain itu metode pengumpulan data dilakukan secara tidak langsung melalui PPL selaku petugas pembina kelompoktani.

2. Metode Penelitian

Format penelitian ini sebagaimana yang digariskan oleh Faisal (2003) merupakan penelitian deskriptif, untuk mengetahui kondisi dan kinerja kelompoktani yang ada di Provinsi Jambi. Pendekatan yang digunakan adalah survey dengan unit studi adalah kelompoktani. Metode pengumpulan data melalui pengiriman angket kepada PPL yang membina kelompoktani. Angket ini berisi enam pertanyaan yang menyangkut kelompok binaan responden yaitu jumlah kelompok dan desa binaan, kelas kelompok, jumlah anggota kelompok, pertemuan rutin, modal kelompok; dan pergantian kepengurusan kelompok (contoh angket terlampir). Pengiriman angket kepada responden dilakukan melalui instansi pembina PPL di tingkat kabupaten / kota pada bulan Mei s/d Agustus 2004. Jumlah angket yang dikirim masing-masing sebanyak 50 angket untuk setiap kabupaten / kota se- Provinsi Jambi.
Responden ditentukan secara tidak sengaja atau incidental sampling (Faisal, 2003; Shahab, 2003) pada saat PPL hadir di kantor pembina kabupaten / kota atau pada saat pertemuan rutin. Angket yang diserahkan kepada rsponden terdiri dari (1) Surat pengantar singkat yang menjelaskan maksud penelitian dan tata cara pengisian angket; (2) lembaran angket; dan (3) amplop kosong yang distempel dengan tulisan “Survey Aktivitas Kelompoktani”. Angket yang sudah diisi oleh responden dikembalikan lagi kepada instansi pembina secara tertutup dan tanpa identitas untuk selanjutnya dikirimkan kembali kepada peneliti. Data yang masuk diolah secara sederhana dengan menggunakan program Excel.
Salah satu keterbatasan metodologis penelitian ini adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan secara tidak langsung pada objek penelitian. Dengan metode ini akurasi data yang dikumpulkan sangat tergantung pada kejujuran, daya ingat dan independensi PPL selaku responden. Guna mengurangi bias akibat ketidak tahuan responden maka pada angket diberikan juga alternatif jawaban “tidak tahu”, untuk menunjukkan bahwa responden tidak tahu atau tidak ingat dengan informasi yang ditanyakan.

Jumlah Sampel Studi Pendahuluan Kinerja Kelompoktani di Provinsi Jambi

Kab/Kota PPL Kelompoktani
1. Kota Jambi 12 53
2. Batang Hari 26 167
3. Muaro Jambi 23 139
4. Bungo 34 221
5. Tebo 45 275
6. Merangin 24 152
7. Sarolangun 49 434
8. Tanjab Barat 35 337
9. Tanjab Timur 22 295
10. Kerinci 21 253
Jumlah 291 2.326

Jumlah Provinsi Jambi PPL = 923 Kelompoktani = 6.287

Keterangan:
Data diolah dari berbagai sumber yang menunjukkan hanya jumlah PPL yang secara langsung membina kelompoktani di lapangan pada saat penelitian


2. Hasil dan Pembahasan

a. Responden

Dari 500 angket yang dikirimkan ke sepuluh kabupaten / kota yang ada di Provinsi Jambi sampai dengan pertengahan Desember 2004 telah kembali sebanyak 291 angket yang layak untuk diolah. Jumlah kelompoktani, PPL pembina kelompoktani dan responden masing-masing kabupaten / kota disajikan pada tabel 1.

b. Kelas dan Keanggotaan Kelompok

Dari 2.326 kelompoktani yang dibina oleh responden ditemui 17 kelompok (0,74%) yang merupakan kelompoktani kelas utama; 188 kelas madya (8,15%); 806 kelas lanjut (34,94%); 928 kelas pemula (40,23%); dan 368 belum dikukuhkan (15,95%). Sedangkan jumlah anggota setiap kelompok sebagian besar (57,08%) sebanyak 20 – 30 orang. Sisanya dengan jumlah anggota <10 orang sebanyak 1,08%; 10 – 20 orang sebanyak 20,36%; 30 – 40 orang sebanyak 16,68%; 40 -50 orang sebanyak 2,64%; dan >50 orang sebanyak 2,16%. Jumlah anggota per-kelompok yang ditemui pada penelitian ini cukup baik, sebagaimana direkomendasikan oleh Heim (1990) yaitu antara 20 – 40 orang, dan tidak melebihi 60 orang. Walaupun hasil pengkajian Oxby (1983) bahwa jumlah anggota kelompok bukan merupakan faktor yang penting terhadap aktivitas dan keberlangsungan kelompoktani.

c. Pertemuan Rutin

Sebagian besar (53,02%) kelompoktani tidak mempunyai kegiatan pertemuan rutin. Sedangkan sisanya mempunyai kegiatan pertemuan rutin dengan rincian: 5,90% kelompok melakukan pertemuan rutin setiap minggu; 30,50% setiap bulan; dan 10,58% setiap dua bulan. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar kelompoktani belum berfungsi secara baik sebagai wadah interaksi petani. Interaksi kelompok ini hanya dapat berjalan baik jika kelompok memiliki pertemuan rutin. Pertemuan rutin lebih memberikan nuansa demokratis bagi anggota kelompok, daripada yang bersifat insidentil dimana inisiatif pertemuan cenderung dibuat oleh pengurus saja. Menurut Sukaryo (1983) efektivitas kelompoktani sangat dipengaruhi oleh tingkat interaksi antar anggota kelompok. Melalui interaksi internal inilah tercipta diskusi, kesimpulan dan keputusan untuk menerapkan teknologi anjuran, menjaga loyalitas, dan memantau dan mengevaluasi program kerja kelompok tersebut secara berkala.

d. Pemupukan Modal

Pemupukan modal kelompok dicerminkan dari besarnya modal yang dikelola oleh kelompoktani. Aspek ini merupakan salah satu faktor penentu dari Lima Jurus Kemampuan Kelompoktani. Didapat sebagian besar kelompok (58,12%) kelompok tidak mengelola uang kas. Sedangkan kelompok yang mengelola uang kas < Rp 1 juta sebanyak 22,94%; Rp 1 – 10 juta sebanyak 16,30%; Rp 10 – 50 juta sebanyak 2,37%; Rp 50 -100 juta sebanyak 0,21%; dan > Rp 100 juta sebanyak 0,05%. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas kelompoktani belum berperan secara baik sebagai wadah kerjasama ekonomi petani, terutama untuk menjadi lembaga ekonomi mikro. Llanto dan Balkenhol (1996) menyimpulkan bahwa penyaluran kredit secara berkelompok dan jaminan kelompok merupakan cara yang efektif dalam mengatasi kendala agunan dalam penyediaan kredit untuk kreditor mikro.

e. Pergantian Pengurus

Peran pengurus dalam pengambilan keputusan kelompoktani sangat dominan yaitu lebih dari 70% dibandingkan dengan partisipasi anggota (Sukaryo, 1983). Oleh karena itu pergantian kepengurusan secara rutin akan menjamin lahirnya keputusan kelompoktani yang lebih demokratis. Pada penelitian ini didapat sebanyak 66,70% kelompoktani melakukan pergantian kepengurusan dalam periode waktu yang tidak menentu. Sementara itu 4,57% kelompok melakukan pergantian setiap tahun; 4,82% setiap dua tahun; 7,72% setiap tiga tahun; 3,60% setiap empat tahun; dan 7,77% setiap lima tahun. Dengan demikian sebagian besar kelompoktani menunjukkan indikasi kurang berperan sebagai wadah pengambil keputusan secara demokratis.

f. Jawaban “tidak tahu”

Dari hasil penelitian ini didapat jawaban “tidak tahu” dari sejumlah responden. Jawaban ini menunjukkan bahwa responden tidak ingat atau tidak mengetahui mengenai informasi yang berkaitan dengan sebagian atau seluruh kelompoktani binaan mereka. Informasi yang di jawab “tidak tahu” oleh responden meliputi: (a) tentang kelas kelompok dijawab oleh 5 responden (1,72%) terhadap 19 kelompoktani; (b) tentang pertemuan rutin kelompok dijawab oleh 33 responden (11,34%) terhadap 200 kelompoktani; (c) tentang pemupukan modal kelompok dijawab oleh 57 responden (19,59%) terhadap 417 kelompoktani; dan (d) tentang pergantian pengurus kelompok dijawab oleh 60 responden (20,62%) terhadap 450 kelompoktani.
Sungguhpun jumlah jawaban “tidak tahu” ini tidak terlalu besar tetapi angka ini menunjukan indikasi cukup menonjolnya kasus kekurang pedulian responden selaku PPL terhadap kelompoktani binaanya. Hal ini dapat dimaklumi karena kegiatan yang berkaitan dengan pembinaan kelompoktani memang kurang dihargai sebagai indikator kinerja PPL. Sebagai contoh dapat dilihat dari nilai angka kredit untuk kegiatan menumbuhkan kelompoktani diberi nilai 0,625; sedangkan kegiatan meningkatkan kemampuan kelompoktani diberi nilai 0,144 – 0,720. Angka ini tentunya relatif kecil jika dibandingkan dengan nilai yang diberikan terhadap kegiatan mengikuti Diklat selama 2 minggu yaitu dengan nilai 2.

3. Kesimpulan dan Saran

a. Dengan menggunakan tiga indikator sederhana yaitu pertemuan rutin, pemupukan modal dan pergantian rutin pengurus kelompok, secara umum disimpulkan bahwa kinerja kelompoktani di Provinsi Jambi masih relatif rendah;
b. Terdapat indikasi menonjolnya jumlah PPL yang melaksanakan kegiatannya dengan tidak berorientasi pada pembinaan kelompoktani sebagai basis pembinaan pertanian. Hal ini dibuktikan masih ditemui sejumlah PPL yang tidak mengetahui kondisi kelompoktani binaanya, sekalipun mengenai hal-hal yang sederhana;
c. Perlu dilakukan inventarisasi ulang terhadap kinerja kelompoktani di Provinsi Jambi dengan cara yang lebih komprehensif untuk mendapat data yang lebih akurat mengenai kondisi kelompoktani yang ada;
d. Perlu dilakukan reorientasi kebijakan instansi pembina pembangunan pertanian untuk lebih memposisikan peran kelompoktani dalam menunjang kegiatan pembangunan pertanian, terutama di pedesaan;
e. Perlu dilakukan pengkajian ulang terhadap indikator kinerja PPL, terutama yang berkaitan dengan pembinaan kelompoktani agar dapat memberikan insentif yang lebih rasional atas kinerja PPL dalam pembinaan kelompoktani.


Daftar Pustaka

Adjid, D. A. 1981. Kelompoktani: Pembuka Cakrawala dan Sekaligus Penggerak bagi
Terwujudnya Pertanian Rakyat yang Selalu Maju. dalam Dasar-dasar Pembinaan
Kelompoktani dalam Intensifikasi Tanaman Pangan. 159-170. Satuan
Pengendali Bimas. Jakarta

BBKP. 2003. Programa Penyuluhan Pertanian Provinsi Jambi Tahun 2003. Badan Bimas
Ketahanan Pangan Provinsi Jambi.

Deptan. 1989. Pedoman Pembinaan Kelompoktani. Departemen Pertanian.

Deptan. 1993. Buku Pintar Penyuluhan Peternakan. Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian.

Faisal, S. 2003. Format-format Penelitian Sosial. Rajawali Pers. Jakarta.

Heim, F. G. 1990. How to Work with Farmers: A Manual for Field Workers, Based on
the Case of Thailand. Verlag Josef Margraf. Jerman.

Llanto, G.M. dan Balkenhol, B. 1996. Asian Experience on Collateral Substitutes: Breaking
Barriers to Formal Credit. 1 – 33. Apraca – ILO. Manila – Philippine.

Martaamidjaja, A.S. 1993. Agricultural Extension System in Indonesia. Ministry of
Agriculture. Jakarta.

Oxby, C. 1983. “Farmer Groups” in Rural Areas of the Third World. Community
Development Journal. 18(1):50-59.

Shahab, Y. 2003. Metode Kuantitatif: Materi Pelatihan Penelitian Sosial. CEIA
(Center for East Indonesian Affairs), Jakarta.

Sukaryo, D.G. 1983. Farmer Participation in the Training and Visit System and the Role
Of the Village Extension Workers: Experience in Indonesia. dalam Cernea, M.M.
et. al. (Ed). Agricultural Extension by Training and Visist: the Asian Experience.
18 – 25. The World Bank. Washington, D.C. U.S.A.


(Makalah ini disampaikan pada Seminar Nasional Pengelolaan Lahan dan Tanaman Terpadu dan Hasil-hasil Penelitian/Pengkajian Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi tanggal 13 – 14 Desember 2004 diselenggarakan Oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jambi)

Tidak ada komentar: